• marketing.ssbbyl@gmail.com

  • 0276-3280064 / 081 129 50705

Batik Indonesia memiliki sejarah panjang. Salah satu sejarah itu bisa digali di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Daerah di wilayah pesisir pantai Utara Jawa itu bahkan dijuluki sebagai Kota Batik atau City Of Batik and Creativity. Beragam jenis batik banyak diproduksi langsung oleh warga masyarakat. Sebagai Kota Batik, Pekalongan bahkan memiliki museum batik yang menyimpan berbagai koleksi batik nusantara lintas generasi. Gedung yang terletak di pusat kota Jalan Jetayu Nomor 3 itu mempunyai nilai sejarah penting sejak masa kolonial Belanda.

Pada zaman VOC Belanda, museum batik ini dikenal dengan nama City Hall, yang merupakan bekas kantor keuangan untuk mengontrol kegiatan tujuh pabrik gula di Karesidenan Pekalongan.

Gedung museum yang dibangun tahun 1906 itu bersanding dengan bangunan bekas milik Belanda lain, Rumah Jabatan Gubernur Jawa Tengah, Kantor Pos, Lembaga Pemasyarakatan, Gereja dan Sungai Loji. Sejarahnya yang kental membuat museum batik sebagai gedung heritage yang menarik dikunjungi. Di sana pengunjung akan dimanjakan segudang pengalaman berharga, seperti belajar langsung membatik, melihat koleksi batik nusatara, hingga membeli kain batik untuk oleh-oleh.

Berbagai jenis batik yang ditampung dalam tiga ruang koleksi pastinya akan memanjakan pengunjung. Seperti ruang pamer I yang menampilkan koleksi batik di beberapa daerah, seperti pantura/ bantik pesisiran, yakni Pekalongan, Lasem (Rembang) dan Cirebon. Batik Lasem ini dikenal dengan motif Cepok dan Rumpa, batik Pekalongan dengan motif Buketan Mas, Buketan van Zuylen, Batik Cirebon dengan motif Buketan Latar Banji dan motif Mega Mendung.

Untuk ruang pamer II, koleksi batik nusantara berbagai daerah juga ditampilakan.  Seperti Batik Juwana dengan motif Lok Chan, batik pati motif Blebak Peksi Manyaran, batik Kalimantan Timur motif Aso, Kepala Tumpal Pasung. Selain itu, batik Bogor motif Kujang Kijang, batik Riau motif Dholorong Kembang, Batik Bengkulu dengan motir Besurek, batik India motif Tiruan Patola, hingga batik Jakarta dengan motif Lereng Bunga Rampai.

Memasuki ruang pamer III, pengunjung akan ditunjukkan koleksi khas pedalaman Yogyakata, Solo, serta koleksi batik tokoh nasional. Seperti koleksi Presiden, Ibu Negara, Menteri dan sejumlah tokoh nasional.

Museum Batik Pekalongan juga menyediakan paket wisata untuk belajar membatik. Mulai batik tulis menggunakan alat canting hingga proses kreatif di dalamnya. Pengunjung juga bisa menjajal batik cap yang dipandu oleh beberapa petugas profesional di dalamnya. “Tempat ini sudah sering dibuat praktek anak-anak sekolah. Biasanya pas waktu liburan banyak sekali dari luar kota yang datang,” ujar kepala UPTD Museum Batik Pekalongan, Tanti Lusiani.

Tanti menuturkan, pengunjung yang mengikuti workshop batik juga diperbolehkan membawa pulang hasil batik tulis yang dikerjakan. Hanya harus membayar uang Rp65ribu, kain batik ukuran kain satu meter sudah bisa dibawa pulang. Untuk biaya pelatihan singkat pun sangat terjangkau yakni, antara Rp20-Rp25 ribu, tergantung ukuran kain yang digunakan.

Tentunya, museum batik Pekalongan ini bisa menjadi alternatif liburan Anda dan keluarga. Selain dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung yang cukup modern, museum batik juga dibuka setiap hari mulai pukul 07.00-15.00 WIB.

Sumber : viva.co.id